Pencapaian Terhebat Dalam Hidup.

Sabtu sore di sudut taman, sepasang anak manusia saling menabur riang, bertindih cerita, dan bersilang lepas tawa. Sungguh satu hal terindah, merajut romantisme asmara di pangkuan senja. Jaka dan Gadis, telah tiga tahun menjalani hubungan. Namun tak satupun keduanya yang berani memutuskan untuk melangkah pada hubungan lebih serius. Jaka adalah seorang playboy yang telah menghentikan kebiasaannya sejak mengenal Gadis. Sedangkan Gadis adalah putri manja yang perlahan mandiri sejak mengenal Jaka. Pada kesempatan baik itu, Gadis berusaha meneguhkan keyakinannya pada Jaka. Berhati-hati dia menggantungkan cinta di hati Jaka.

“Menurutmu, aku ini siapa bagimu?”, tanya manja Gadis.

“Kau kekasihku”, jawab Jaka.

“Dulu pun kau juga bilang begitu pada setiap wanita yang bersamamu”, timpal gadis sambil tersenyum.

“Tapi kau berbeda”, sahut Jaka kecut.

“Berbeda dari Hongkong…”. Gadis berusaha terpingkal, tapi dalam hatinya berdebar mengharap keseriusan jawaban Jaka.

Sambil menggenggam jemari kedua tangan Gadis, Jaka berjanji lirih: “Kau sesuatu paling berharga bagiku. Hidup bersamamu adalah pencapaian terhebat hidupku, dan aku bersumpah tak akan pernah melepaskanmu”. Gadis terdiam.

Selang tiga bulan kemudian mereka menikah. Kehidupan rumah tangga ternyata tak seindah memadu kasih saat berpacaran. Pada awal pernikahan semuanya terasa begitu indah. Tapi waktu berjalan, keduanya mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Siang dan malam hanya berisi rutinitas membosankan. Kejenuhan berbuah saling menyalahkan. Mulai ketersinggungan hal-hal sepele hingga percekcokan hak dan kewajiban. Kebersamaan yang dulu manis kini sangat pahit untuk dirasakan. Kenyataan hidup sangat kejam.

Dan suatu pagi bara itu membakar hebat hati keduanya hingga menghanguskan akal sehat. Setelah hampir satu jam bergumul dalam percekcokan, tiba-tiba Gadis kalap,

“Kau sekarang tak pernah peduli. Aku sudah tak lagi berharga bagimu!”, teriak gadis sambil melempar cangkir teh yang diseduhnya. Terbentur, sebuah bingkai foto pernikahan mereka jatuh. Berkeping. Jaka terkesiap, emosinya meluap. Dia balik berteriak,

“Aku menyesal selama ini masih bersamamu. Kau tidak pernah realistis melihat hidup!”. Sekejap keduanya diam memaku.

Read More »

Advertisements

Disclosure

Assalamu’alaikum,

Achmad Syauqi, biasa dipanggil Qi, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, telah mengawali debut sebagai Ghostwriter sejak di bangku Sekolah Menengah Atas. Tanpa disadari, kegemarannya membantu penyelesaian tugas-tugas penulisan karya ilmiah teman-teman satu sekolah, serta penyempurnaan teks-teks latihan pidato di pesantren tempat Penulis tinggal semasa menempuh pendidikan SMA ternyata merupakan cikal bakal aktifitas yang kini sedang digeluti.

Kegemaran menganalisa dan menulis ini bahkan menempatkan cukup pada peringkat ke-6 dari 10 besar Siswa SMA Teladan se-Kabupaten Banyuwangi Tahun 1996, serta juara I lomba pidato Bahasa Inggris tingkat Pesantren se-Kabupaten Banyuwangi Tahun 1997, berlanjut hingga ke bangku Perguruan Tinggi dengan menjuarai Terbaik I Lomba Penulisan dan Presentasi Essai Mahasiswa Tahun 2002 yang diselenggarakan oleh kampusnya. Sejak itulah secara tidak serius aktifitas Ghostwriting mulai dijalani sebagai sebuah jasa. Tidak serius karena, di daerah, kebutuhan terhadap jasa Ghostwriter masih sangatlah kurang, bahkan masyarakat cenderung tidak mengenalnya sebagai profesi. Dari segi penghargaan intelektual maupun finansial.

Meski demikian ketelatenan dalam bergaul dengan para klien mengantarkan pria penyuka travelling dan film fiksi ilmiah pada lingkaran politik lebih jauh, yakni dengan direkrut sebagai Anggota Tim Ahli (istilah dalam perundang-undangan adalah Asistensi) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi untuk Bidang Umum (Pemerintahan) dan Legislasi pada Tahun Anggaran 2007. Ini adalah awal karir yang ditekuni secara serius. Tertarik untuk lebih mendalami perilaku politik praktis, Penulis memutuskan menolak memperpanjang kontrak, memilih bergabung dengan salah satu partai politik, menjadi kontestan Pemilihan Umum Anggota DPRD periode 2009-2014, dan Terpilih! Yang cukup membanggakan secara pribadi, sebagai pendatang baru di belantara politik (belum genap 1 tahun dari masa pemilihan), Penulis mampu meraih 1.477 suara dengan budget kampanye relatif kecil untuk masyarakat perkotaan (setara 2 unit sepeda motor).

Namun, konstelasi politik yang tidak stabil pada proses dukung-mendukung dalam Pemilukada, dan adanya faksi (perpecahan tingkat elit) pada pucuk pimpinan partai melemparkan Penulis dari jabatannya melalui kudeta kepengurusan, yang didukung oleh sebuah konspirasi akibat kepentingan politik Bupati Banyuwangi terpilih 2010. Meski upaya hukum yang dilakukan menghasilkan putusan Niet Ontvankelijk Verklaard, namun Penulis bersyukur dalam proses persidangan 3 dari 5 orang saksi (2 saksi yang lain 1 diantaranya gugur kesaksiannya) serta hampir seluruh alat bukti tertulis yang diajukan di persidangan “mengakui” kebenaran secara sah materi gugatan Penulis. Sebuah pembelajaran sangat berharga yang menyadarkan bahwa, tidak cukup kecerdasan dalam dunia politik yang sangat dinamis dan penuh intrik, lebih dari itu adalah kewaspadaan dan berhati-hati menempatkan kepercayaan.

Kini, memutuskan untuk mendalami keahlian “koreografi” dalam hiruk pikuk politik praktis, Penulis mencurahkan seluruh kemampuannya menekuni kembali habitat semula secara lebih profesional, yaitu: menulis, dan juga profesi lain yang masih koheren dengan membentuk DAYACITRA, sebuah Lembaga Riset, Pemberdayaan dan Konsultan dalam bidang Politik, Hukum, Pemerintahan, dan Korporasi / Profesi. Kini, sambil berusaha menyelesaikan studi pascasarjana Program Magister Ilmu Hukum, Penulis melihat profesi writer & adviser sebagai sesuatu yang layak secara serius untuk ditekuni.

Dua blog dikelola sebagai media eksistensi, desainkata, dan dayacitra yang sebelumnya telah ada situs usaha coffee shop Penulis, karocafe.com. Sebagai media interaksi Penulis aktif dalam jejaring sosial di alamat twitter.com/achmadsyauqi, serta fanpage Hidup Dengan Cinta, dan yang terbaru DesainKata.

Bukankah tidak ada hal terindah untuk kita lakukan, selain perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain dan diri kita sendiri? Semuanya bisa berawal dari menulis!

Wassalamu’alaikum.